Kondisi Idrus, ODGJ yang sedang dipasung. Foto: duk. Pena.
Mamasa,penasulbar.com – Di sebuah rumah sederhana di Ululakahang, Desa Tampakkurra, Kecamatan Tabulahan, Kabupaten Mamasa, seorang pemuda bernama Idrus (27) menjalani hari-harinya dalam keterbatasan. Selama hampir sepuluh tahun, Idrus yang mengalami gangguan jiwa terpaksa hidup di dalam pasungan bambu karena keluarganya tidak memiliki pilihan lain.
Pemandangan itu menjadi luka yang terus membekas bagi keluarga. Di usia yang seharusnya dipenuhi harapan, cita-cita, dan semangat mengejar masa depan, Idrus justru menghabiskan masa mudanya dalam ruang sempit, jauh dari kehidupan yang layak.

Menurut adik perempuannya, Wiwin, Idrus dulunya adalah sosok pekerja keras yang penuh semangat. Ia rajin bekerja demi membantu keluarga dan mempersiapkan masa depannya. Namun, pada tahun 2016, kondisi Idrus berubah drastis. Ia mulai sering merasa ketakutan, berteriak tanpa sebab, hingga tindakannya membahayakan diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya.
“Awalnya dia sangat semangat bekerja mencari nafkah. Tapi tiba-tiba dia sering ketakutan, kemudian mengamuk hingga akhirnya keluarga terpaksa memasungnya demi keselamatan bersama,” tutur Wiwin saat ditemui di rumahnya, Kamis (23/7/2026).
Meski demikian, di balik kondisi yang dialaminya, masih ada harapan yang tersimpan dalam diri Idrus. Di saat-saat kesadarannya kembali, ia sering bertanya kepada sang adik dengan suara lirih.
“Kapan saya bisa sembuh seperti dulu?”
Pertanyaan sederhana itu selalu membuat hati Wiwin hancur. Sebagai adik yang tumbuh bersama Idrus sejak kecil, ia hanya mampu menahan air mata karena tidak memiliki biaya untuk membawa kakaknya menjalani pengobatan yang layak.
“Kadang-kadang dia sadar dan bertanya kapan bisa sembuh. Saya sangat kasihan, tetapi saya tidak tahu harus berbuat apa karena kami tidak punya biaya,” ungkapnya.
Kesedihan yang sama juga dirasakan ayah Idrus, Elianus (66). Di usia senjanya, ia masih berjuang merawat anak yang sangat dicintainya. Sebagai seorang ayah, ia hanya memiliki satu harapan: melihat Idrus kembali sehat dan dapat menjalani hidup seperti pemuda lainnya.
“Andai saya punya biaya, dari dulu saya bawa anak saya berobat. Saya ingin sekali melihat dia sehat lagi. Memang ada BPJS, tetapi kebutuhan selama mendampingi di rumah sakit dan biaya lainnya saya harus dapat dari mana,” ucap Elianus dengan mata berkaca-kaca.
Cobaan keluarga ini semakin berat setelah istri Elianus, yang selama ini setia mendampingi merawat Idrus, meninggal dunia pada pertengahan Juni lalu. Kepergian sang istri meninggalkan duka mendalam sekaligus beban besar yang kini harus dipikul seorang diri.
“Saya semakin sedih karena istri saya yang selama ini merawat Idrus sudah meninggal. Sekarang di rumah tinggal saya berdua dengan Idrus,” katanya lirih.
Di tengah segala keterbatasan, keluarga Idrus tidak kehilangan harapan.
Keluarga berharap ada uluran tangan dari pemerintah maupun para donatur agar Idrus dapat segera menjalani perawatan medis yang dibutuhkan. Sebab, kesempatan untuk sembuh adalah harapan yang hingga hari ini masih terus mereka perjuangkan. (Nisan)






