Pemkab Mamasa Dinilai Tutup Mata atas Bencana Longsor Pangadaran, Glori Talis: Kami Minta Perhatian Presiden

Kondisi longsor yang menutup ruas jalan poros Buran a- Pangadaran-Baruru. Foto:duk.pena.

Mamasa,penasulbar.com — Pemerintah Kabupaten Mamasa dinilai lamban merespons bencana longsor yang menutup akses utama menuju Desa Pangadaran, Kecamatan Tabulahan, Kabupaten Mamasa. Hingga memasuki pekan kedua sejak longsor terjadi pada awal Mei 2025, belum terlihat langkah konkret dari pemerintah daerah untuk membuka jalur yang menjadi urat nadi aktivitas masyarakat tersebut.

Peristiwa longsor yang viral di media sosial itu telah diberitakan berbagai media siber. Pemerintah Desa Pangadaran bahkan disebut telah melayangkan surat resmi kepada Pemkab Mamasa guna meminta penanganan segera. Namun, harapan masyarakat sejauh ini belum mendapat jawaban nyata.

Akibat akses jalan yang lumpuh total, warga kini mulai kesulitan memperoleh kebutuhan pokok. Harga barang perlahan mengalami kenaikan karena distribusi logistik terhambat.

Dalam kondisi serba terbatas, masyarakat hanya mengandalkan gotong royong membersihkan material longsor menggunakan alat seadanya.

Namun derasnya material tanah yang terus turun membuat upaya warga nyaris tak membuahkan hasil.

Tak sedikit warga yang terpaksa mempertaruhkan keselamatan dengan menerobos titik longsor demi mendapatkan bahan makanan dan kebutuhan sehari-hari.

Kekecewaan masyarakat pun mulai memuncak. Salah seorang warga Pangadaran, Glori Talis, secara terbuka menyampaikan aspirasi kepada Presiden RI, Prabowo Subianto.

“Pak Presiden, tolong kami. Jangan cuma kasih MBG, tapi bantu juga buka akses jalan kami,” ujar Glori Talis.

Menurut Glori, pernyataan tersebut merupakan bentuk jeritan masyarakat yang merasa diabaikan pemerintah daerah.

“Kami hanya berharap ada perhatian nyata dari pemerintah. Kalau jalannya tertutup, bagaimana mungkin bahan makanan dan program makan bergizi bisa masuk ke kampung?” katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Pangadaran, Agus Susanto, mengatakan kondisi jalan hingga kini masih sangat membahayakan karena material longsor terus bergerak menutupi badan jalan.

“Kami sudah berupaya membersihkan material longsor agar minimal bisa dilalui kendaraan roda dua. Tapi tanah terus turun sehingga sangat berbahaya bagi warga,” ujarnya.

Ia menambahkan, selama dua pekan akses jalan terputus, masyarakat mulai mengalami kesulitan serius untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
“Untuk melewati longsor, kendaraan bahkan harus diangkat secara manual. Tidak semua warga mampu melakukan itu,” katanya.

Warga berharap pemerintah daerah tidak sekadar menunggu situasi memburuk, tetapi segera turun tangan menghadirkan alat berat dan langkah penanganan darurat sebelum kondisi benar-benar melumpuhkan aktivitas masyarakat di wilayah terisolasi tersebut. (Nisan Parrokak)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *