Bupati Mamasa, Welem Sambolangi, saat bertemu Wakil Menteri Pariwisata RI, Ni Luh Puspadi.
JAKARTA – Potensi pariwisata Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, menyimpan peluang besar untuk dikembangkan menjadi salah satu kekuatan ekonomi daerah. Kekayaan alam, keunikan budaya, tradisi masyarakat, hingga keberadaan puluhan desa wisata menjadi modal penting bagi Mamasa untuk menarik lebih banyak kunjungan wisatawan.
Potensi inilah yang kini terus didorong Pemerintah Kabupaten Mamasa agar tidak hanya menjadi kebanggaan daerah, tetapi juga mampu memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
Keseriusan tersebut ditunjukkan Bupati Mamasa, Welem Sambolangi, dengan menemui Wakil Menteri Pariwisata RI, Ni Luh Puspadi, di Jakarta, Rabu (4/11/2026). Pertemuan itu menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah membangun sinergi dengan pemerintah pusat untuk mempercepat pengembangan sektor pariwisata di Kabupaten Mamasa.
Sejumlah agenda strategis menjadi pembahasan dalam pertemuan tersebut. Mulai dari pengembangan desa wisata, dukungan pembangunan infrastruktur penunjang destinasi, hingga penguatan event tahunan Bulan Mamase sebagai salah satu agenda promosi pariwisata dan kebudayaan daerah.
Melalui sambungan telepon selulernya, Welem Sambolangi mengungkapkan bahwa pemerintah daerah secara khusus meminta dukungan Kementerian Pariwisata untuk mempercepat pengembangan berbagai potensi wisata yang tersebar di wilayah Mamasa.
Menurutnya, salah satu kekuatan yang perlu mendapat perhatian adalah keberadaan 29 desa wisata. Jumlah tersebut menjadi modal besar bagi Mamasa untuk membangun sektor pariwisata berbasis potensi lokal dan pemberdayaan masyarakat.
“Hari ini kita baru saja bertemu dengan Wamen untuk mendiskusikan sejumlah program pengembangan pariwisata di Mamasa. Kita meminta dukungan dalam pembangunan infrastruktur pariwisata dan pengembangan sejumlah desa wisata,” ungkap Welem.
Namun, mengembangkan desa wisata tentu tidak cukup hanya dengan mengandalkan potensi alam dan budaya yang dimiliki. Diperlukan pendampingan berkelanjutan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta penguatan kelembagaan agar setiap desa mampu mengelola potensi wisatanya secara lebih profesional.
Karena itu, dukungan pemerintah pusat diharapkan dapat membuka jalan bagi 29 desa wisata di Mamasa untuk tumbuh dan berkembang menjadi destinasi yang memiliki daya tarik serta daya saing.
Harapan tersebut mulai menemukan titik terang. Welem menyampaikan bahwa Kementerian Pariwisata telah mengagendakan program pendampingan bagi seluruh desa wisata di Mamasa pada tahun 2027 mendatang. Pelaksanaannya akan dilakukan bersama Dinas Pariwisata Kabupaten Mamasa.
“Tahun depan Kementerian Pariwisata telah mengagendakan untuk bersama-sama dengan Dinas Pariwisata Mamasa memberikan pendampingan kepada semua desa wisata di Mamasa,” jelasnya.
Program pendampingan ini diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat tata kelola desa wisata, meningkatkan kualitas pelayanan, serta mendorong masyarakat mengambil peran lebih besar dalam mengembangkan destinasi di wilayah masing-masing.
Selain desa wisata, perhatian dalam pertemuan tersebut juga tertuju pada Bulan Mamase, event tahunan yang menjadi salah satu ruang bagi Kabupaten Mamasa untuk memperkenalkan kekayaan budaya, tradisi, dan potensi pariwisatanya kepada masyarakat luas.
Welem menyebutkan, program Bulan Mamase mendapat apresiasi dari Kementerian Pariwisata. Apresiasi tersebut menjadi dorongan bagi pemerintah daerah untuk terus memperkuat penyelenggaraan event tersebut agar semakin berkualitas dan memiliki jangkauan promosi yang lebih luas.
Bagi Pemerintah Kabupaten Mamasa, Bulan Mamase tidak semestinya hanya menjadi agenda seremonial yang digelar setiap tahun. Lebih dari itu, event tersebut diharapkan menjadi ruang promosi strategis untuk memperkenalkan identitas dan keunikan Mamasa, sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat.
Keterlibatan pelaku UMKM, seniman, komunitas budaya, hingga masyarakat lokal menjadi bagian penting agar penyelenggaraan event tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih luas.
Melalui berbagai langkah tersebut, Pemerintah Kabupaten Mamasa berharap pengembangan pariwisata dapat berjalan secara lebih terarah dan berkelanjutan. Sinergi dengan Kementerian Pariwisata diharapkan tidak berhenti pada pertemuan dan pembahasan program, tetapi berlanjut menjadi dukungan konkret bagi pembangunan sektor pariwisata di daerah.
Dengan 29 desa wisata yang dimiliki, serta kekayaan budaya dan agenda tahunan Bulan Mamase, Mamasa memiliki modal untuk tumbuh sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Sulawesi Barat.
Kini, tantangannya adalah bagaimana mengelola potensi tersebut menjadi kekuatan ekonomi yang mampu membuka peluang usaha, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. (Nsp)






