Petani durian Mamasa, Menton Bersama pengusaha Mamasa, Wilson (papa Yeyen) sedang memantau proses pengiriman durian Montong ke Surabaya. Foto:duk.pena.
Mamasa,penasulbar.com – Kesuksesan tidak selalu harus diraih dari balik meja kantor atau dengan mengejar jabatan. Bagi Menton, seorang anak kampung yang lahir dan dibesarkan dari keluarga petani, keberhasilan justru sedang ia bangun dari tanah yang selama ini menjadi bagian dari kehidupannya.
Menton memilih meninggalkan jabatan penting di lingkup Pemerintah Kabupaten Mamasa dan fokus mengembangkan perkebunan durian montong.
Keputusan itu bukan tanpa alasan. Ia ingin membuktikan bahwa menjadi petani bukanlah pilihan kelas dua. Sebaliknya, dengan ketekunan, pengelolaan yang baik, dan keberanian mengambil peluang, sektor pertanian dapat menjadi jalan menuju kehidupan yang lebih sejahtera.
Di atas lahan seluas 5 hektare di Desa Penayangan, Kecamatan Bumal, Kabupaten Mamasa, Menton menanam sekitar 1.200 pohon durian montong.

Kini, kerja keras itu mulai membuahkan hasil.
Pada Selasa, 8 September 2026, Menton memanen sekitar 2,6 ton atau 2.600 kilogram buah durian montong. Hasil panen tersebut langsung dijemput oleh eksportir durian montong dari Surabaya.
“Hari ini kita sudah panen sebanyak 2,6 ton dan langsung dijemput eksportir durian dari Surabaya,” ujar Menton saat ditemui di kediamannya, Selasa (8/9/2026).
Menariknya, produksi tersebut baru berasal dari sebagian kecil tanaman yang dimilikinya.
Menton menyebut, dari sekitar 1.200 pohon yang ditanam, baru sekitar 10 persen yang mulai berproduksi.
“Kita baru panen 10 persen dari 1.200 pohon. Hasilnya 2,6 ton dengan harga jual Rp57 juta,” katanya.
Dengan masih banyaknya pohon yang belum memasuki masa produksi optimal, Menton memiliki target jangka panjang yang jauh lebih besar.
Jika seluruh tanaman nantinya mampu berproduksi secara optimal, kebun tersebut ditargetkan dapat menghasilkan sekitar 50 hingga 80 ton durian montong dalam satu musim panen.
Target tersebut menjadi gambaran besarnya potensi perkebunan yang sedang dibangun Menton. Dari 1.200 pohon yang ada, saat ini baru sebagian kecil yang menghasilkan, namun sudah mampu memberikan hasil panen 2,6 ton.
Karena itu, ketika seluruh tanaman memasuki masa produktif, produksi diharapkan meningkat berkali-kali lipat.
Buktikan Mamasa Cocok untuk Durian Montong
Perkebunan Menton di Desa Penatangan, Kecamatan Bumal, Kabupaten Mamasa, juga mendapat perhatian dari kalangan pengusaha Mamasa.
Wilson, yang akrab disapa Papa Yeyen, datang melihat langsung proses persiapan pengiriman hasil panen. Ia memberikan apresiasi atas keberanian dan kerja keras Menton dalam mengembangkan durian montong di wilayah tersebut.
Menurut Wilson, keberhasilan tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa Mamasa memiliki potensi besar untuk pengembangan komoditas durian montong.
“Apa yang kita lihat hari ini sekaligus menepis keraguan banyak orang bahwa tanah di Mamasa kurus dan tidak cocok dengan durian.”
Ia menilai, keberhasilan Menton tidak hanya berbicara tentang hasil panen, tetapi juga tentang keberanian mengubah cara pandang masyarakat terhadap sektor pertanian.
“Ini pencapaian yang luar biasa. Pak Menton ini memang sosok pekerja keras. Ia bisa membuktikan bahwa durian montong cocok di Mamasa dan bisa mensejahterakan masyarakat,” ujar Wilson.
Dari Anak Petani untuk Petani Mamasa
Kisah Menton menjadi contoh bahwa latar belakang sebagai anak petani bukanlah batas untuk meraih keberhasilan.
Ia justru kembali kepada dunia yang sejak kecil telah membentuk kehidupannya. Bedanya, kali ini ia datang dengan keberanian, pengetahuan, perencanaan, dan visi untuk mengembangkan pertanian menjadi usaha yang bernilai ekonomi tinggi.
Keputusannya meninggalkan jabatan pemerintahan dan memilih mengelola kebun menjadi pesan tersendiri: tanah tidak akan memberikan hasil kepada mereka yang hanya memandangnya, tetapi kepada mereka yang mau mengolah dan merawatnya dengan tekun.
Dari lima hektare lahan dan 1.200 pohon durian di Desa Penatangan, Menton sedang membangun lebih dari sekadar perkebunan.
Ia sedang membangun sebuah keyakinan baru bahwa petani bisa sejahtera, perkebunan bisa menjadi bisnis menjanjikan, dan Mamasa memiliki potensi pertanian yang layak dikembangkan.
Panen 2,6 ton dengan nilai Rp57 juta mungkin baru langkah awal. Dengan baru sekitar 10 persen tanaman yang berproduksi, perjalanan menuju target 50–80 ton per musim panen masih panjang.
Namun, dari kebun sederhana di Desa Penayangan itu, sebuah pesan penting mulai tumbuh: jika dikelola dengan serius, tanah Mamasa bukan hanya mampu ditanami, tetapi juga mampu menjadi sumber kesejahteraan. (NSP)






