dr. Elypas Pelangi. Foto: duk. Pena
Mamasa,penasulbar.com – Persoalan stunting di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, menjadi perhatian serius tokoh masyarakat sekaligus pemerhati kesehatan, dr. Elypas Palangi. Ia menilai tingginya angka stunting harus menjadi alarm bagi Pemerintah Kabupaten Mamasa untuk mengambil langkah nyata dan terukur.
dr. Elypas mengatakan, persoalan stunting tidak boleh dipandang sebagai masalah kesehatan semata. Jika tidak ditangani secara tepat, stunting dapat berdampak terhadap kualitas sumber daya manusia dan produktivitas generasi mendatang.
“Kasus stunting di Mamasa jangan dianggap sepele. Ini ancaman bagi masa depan generasi daerah. Pemkab Mamasa harus mengambil langkah yang tepat dan bertindak serius, bukan hanya formalitas atau sekadar menjalankan kewajiban, tetapi harus ada tindakan nyata yang berdampak pada penurunan angka stunting,” kata Elypas saat dikonfirmasi, Kamis (10/9/2026).
Ia menyoroti data yang menunjukkan sebanyak 2.165 anak di Kabupaten Mamasa mengalami stunting, dengan prevalensi mencapai 31,01 persen berdasarkan laporan dari 18 puskesmas.
Menurutnya, angka tersebut bukan jumlah yang sedikit sehingga membutuhkan penanganan yang serius, terencana, dan melibatkan tenaga maupun pihak yang benar-benar memahami persoalan stunting.
“Mulai dari perencanaan, pelatihan para motivator, pengambilan sampel, analisis hasil, sampai pada strategi pengambilan keputusan oleh pemerintah daerah, semuanya harus dilakukan dengan benar,” jelasnya.
Elypas juga meminta pemerintah memastikan proses pendataan stunting dilakukan secara benar, jujur, dan transparan. Menurutnya, akurasi data sangat penting agar kebijakan dan anggaran yang disiapkan benar-benar menjawab persoalan di lapangan.
“Pemerintah harus melibatkan orang-orang yang benar-benar paham tentang stunting serta memiliki kredibilitas dan integritas tinggi, sehingga program yang dijalankan bisa efektif dan berhasil menurunkan jumlah generasi yang menderita stunting,” tegasnya.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Mamasa, prevalensi stunting sebesar 31,01 persen tersebut masih jauh di atas angka nasional yang tercatat 21,5 persen berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023.
Jika dibandingkan dengan target nasional dalam RPJMN 2025 sebesar 14 persen, angka stunting Mamasa masih terpaut 17,01 poin persentase.
Dengan prevalensi tersebut, secara sederhana hampir satu dari tiga anak yang diperiksa di Kabupaten Mamasa mengalami stunting.
Kondisi ini dinilai harus menjadi perhatian serius Pemkab Mamasa untuk memperkuat intervensi, memastikan ketepatan sasaran program, serta melakukan evaluasi secara berkala agar upaya penanganan stunting tidak berhenti pada kegiatan administratif, tetapi benar-benar memberikan dampak terhadap penurunan angka stunting di daerah. (NSP)






