Variasi menuh MBG SPPG Osango, sajikan Nila Fillet.
Mamasa,penasulbar.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai menunjukkan potensi sebagai peluang pasar bagi petani dan pembudidaya ikan lokal di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mamasa Osango menjadi salah satu pihak yang mendorong pemanfaatan hasil budidaya daerah untuk memenuhi kebutuhan pangan bergizi anak-anak sekolah.
Salah satu produk lokal yang kini dimanfaatkan adalah ikan nila filet hasil budidaya pembudidaya ikan di Kabupaten Mamasa. Penggunaan komoditas tersebut menjadi bukti bahwa kebutuhan pangan dalam program MBG dapat membuka ruang bagi hasil produksi masyarakat setempat.
Kepala SPPG Mamasa Osango, Kristianto, mengatakan pihaknya berkomitmen mengutamakan produk lokal, baik sayuran maupun sumber protein hewani, dalam penyediaan menu MBG.
“Kami selalu mengutamakan produk lokal, bukan hanya sayuran tapi protein hewani juga. Seperti saat ini yang kami sajikan di SPPG Mamasa Osango yaitu ikan nila filet dari budidaya ikan nila di Mamasa,” ujar Kristianto, Jumat, 23 Oktober 2026.
Menurutnya, pemanfaatan ikan nila lokal bukan hanya mendukung penyediaan makanan bergizi dan segar bagi anak-anak, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi pembudidaya ikan di daerah.
Dengan menggunakan hasil budidaya setempat, kebutuhan bahan pangan program MBG berpeluang menjadi bagian dari rantai ekonomi lokal. Pembudidaya ikan memperoleh akses untuk memasarkan hasil produksinya, sementara perputaran uang dari pengadaan bahan pangan dapat tetap berlangsung di Mamasa.
MBG Berpotensi Jadi Pasar Baru bagi Petani
Keterlibatan petani dan pembudidaya ikan dalam rantai pasok MBG menjadi isu penting bagi pengembangan sektor pertanian dan perikanan daerah. Kebutuhan bahan pangan dalam jumlah besar berpotensi membuka peluang pasar bagi komoditas lokal, mulai dari sayuran, ikan air tawar, hingga produk peternakan.
Namun, peluang tersebut perlu diikuti dengan kerja sama yang berkelanjutan antara pengelola SPPG dan kelompok produsen lokal. Informasi kebutuhan bahan baku, standar kualitas, jadwal pengiriman, harga yang wajar, serta mekanisme pembayaran menjadi faktor penting agar petani dan pembudidaya dapat memasok produk secara konsisten.
Bagi pembudidaya ikan nila di Mamasa, keterlibatan dalam rantai pasok MBG juga berpotensi mendorong peningkatan produksi dan pengembangan usaha. Dengan pasar yang lebih terorganisasi, pembudidaya memiliki peluang untuk merencanakan siklus budidaya berdasarkan kebutuhan konsumen.
Kristianto menambahkan, SPPG Mamasa Osango akan terus berkolaborasi dengan petani dan peternak lokal untuk memenuhi kebutuhan bahan baku program MBG.
“Kami akan terus mengutamakan dan berkolaborasi dengan petani serta peternak lokal untuk memenuhi kebutuhan bahan baku MBG,” ujarnya.
Pemanfaatan ikan nila lokal di SPPG Mamasa Osango diharapkan menjadi langkah yang dapat diperluas melalui kemitraan dengan lebih banyak kelompok tani, pembudidaya ikan, dan peternak di Mamasa.
Dengan demikian, keberhasilan program MBG tidak hanya diukur dari tersedianya makanan bergizi bagi anak-anak, tetapi juga dari sejauh mana program tersebut mampu membuka akses pasar, memperkuat usaha produsen lokal, dan mendorong perputaran ekonomi masyarakat daerah.
Bagi petani Mamasa, peluang ini menjadi momentum untuk memperkuat produksi, menjaga kualitas hasil panen, dan membangun kemitraan agar produk lokal semakin mampu memenuhi kebutuhan pangan secara berkelanjutan. (Wh-ns)






