Penasulbar.com, Mamuju – Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Mamuju menyoroti kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir di wilayah Kabupaten Mamuju dan sekitarnya.
Kelangkaan ini dinilai telah menimbulkan dampak serius bagi masyarakat. Antrean panjang di SPBU, terhambatnya aktivitas ekonomi, nelayan yang tidak melaut, mahasiswa yang kesulitan beraktivitas, hingga ojek dan sopir angkutan umum yang mengeluh karena harus membeli BBM eceran dengan harga dua kali lipat.
Berdasarkan pantauan GMKI Mamuju, saat ini terjadi tiga persoalan utama. Pertama, terbatasnya pasokan BBM di sejumlah SPBU di dalam kota Mamuju. Kedua, adanya dugaan penyaluran yang tidak tepat sasaran dan lemahnya pengawasan. Ketiga, minimnya transparansi informasi dari pihak terkait kepada publik.
Menyikapi kondisi tersebut, GMKI Cabang Mamuju menyatakan 4 sikap resmi:
- Mendesak Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi dan Pemda Mamuju untuk segera menjelaskan penyebab kelangkaan dan memastikan penambahan kuota BBM bersubsidi untuk Mamuju.
- Meminta Aparat Penegak Hukum (APH) untuk melakukan pengawasan ketat terhadap dugaan penimbunan dan penyalahgunaan BBM bersubsidi.
- Meminta DPRD Mamuju untuk segera memanggil pihak terkait dan menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) terbuka terkait tata kelola BBM.
- Mendesak Pertamina wajib menyediakan dan membuka portal atau fitur real-time yang dapat diakses publik secara bebas melalui aplikasi atau situs web, agar penyaluran BBM lebih transparan.
GMKI Mamuju menegaskan, BBM merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Negara dan badan usaha terkait harus menjamin ketersediaan serta distribusi yang adil, agar aktivitas masyarakat tidak lumpuh.






