Opini  

Dunia Digital dan Pergerakan yang Mengitarinya

Oleh: Pdt. Dr. Abialtar,M.Th. (Dosen STT Mamasa)

1. Dunia Digital sebagai Suatu Keniscayaan

Dunia saat ini adalah dunia digital. Dunia digital merupakan gagasan filosofis yang memiliki makna serupa dengan dunia virtual, ruang virtual, ruang digital, atau jagat digital, yakni ruang interaksi, komunikasi, dan simulasi yang berlangsung melalui internet.

Terjadi sebuah pergeseran paradigma: dari gagasan Cartesian “aku berpikir maka aku ada” menjadi “aku browsing maka aku ada.” Gagasan ini merujuk pada arti kata digital dari bahasa Latin digitus yang berarti jari. Manusia digital (homo digital) memastikan keberadaannya melalui jari yang menekan tombol atau melakukan klik (Budiman, 2021:15). Dengan kata lain, “aku klik maka aku ada.”

Dalam konteks ini, terminologi “gereja digital” menemukan momentumnya, terutama ketika pandemi Covid-19 memaksa masyarakat memilih alternatif perjumpaan melalui ruang digital dalam kegiatan keagamaan maupun pendidikan.

Arjun Appadurai, seorang antropolog India dan teoritikus budaya, dikenal melalui konsep globalisasi budaya. Menurutnya, perkembangan teknologi informasi dan transportasi telah mempermudah aksesibilitas serta pertukaran ide, gagasan, dan budaya di seluruh dunia.

Respons Appadurai terhadap fenomena ini adalah bahwa kebudayaan kini menjadi lebih cair dalam pemaknaan dan fungsinya, bahkan terfragmentasi dalam komunitas-komunitas global yang berbeda. Akibatnya, budaya dapat menjadi komoditas bisnis tertentu dan kehilangan makna aslinya. Namun di sisi lain, globalisasi juga memungkinkan budaya dan kearifan lokal dikenal lebih luas oleh masyarakat dunia.

Karena itu Appadurai mengatakan:
“Globalisasi tidak lagi hanya soal gerak antarnegara atau arus modal, tetapi juga soal gerak budaya di dalam ruang baru yang dibuka oleh teknologi baru dan peluang-peluang migrasi yang diperbesar.”

2. Ruang-Ruang Pergerakan dalam Dunia Digital

Ada beberapa ruang pergerakan yang disponsori oleh dunia digital:

1. Ethnoscapes: Pergerakan Manusia
Ethnoscapes menggambarkan pergerakan manusia di seluruh dunia, termasuk turis, imigran, pengungsi, dan pebisnis lintas negara.

Dalam konteks ini, kita dituntut menangkap peluang, bukan hanya keuntungan ekonomis, tetapi juga pengembangan sumber daya manusia yang terekspos oleh ruang digital global. Banyak beasiswa internasional ditawarkan negara-negara maju untuk studi lanjut, namun kesiapan masyarakat dalam menyambut peluang tersebut masih minim, misalnya dalam penguasaan bahasa internasional.

Padahal, pembelajaran bahasa asing kini difasilitasi oleh dunia digital melalui berbagai platform seperti YouTube dan media pembelajaran daring lainnya.

2. Technoscapes: Pergerakan Teknologi dan Informasi
Technoscapes merujuk pada cara teknologi mempercepat perpindahan informasi lintas negara.
Pada tahap ini, semua orang memiliki kebebasan mengakses informasi. Namun, derasnya arus informasi juga menyebabkan sebagian informasi cepat menjadi usang, sementara informasi baru terus bermunculan. Akibatnya, banyak orang tertinggal dalam memperoleh informasi yang relevan.
Dalam dunia pendidikan, bisnis, maupun keagamaan, sesungguhnya terdapat banyak peluang pengembangan yang dapat dikelola lebih baik melalui pemanfaatan teknologi digital.

3. Financescapes: Pergerakan Uang Global
Financescapes mengacu pada cepatnya pergerakan uang melintasi batas-batas negara.
Saat ini banyak orang memperoleh penghasilan melalui perdagangan valuta asing maupun bisnis digital internasional. Namun, sebagian masyarakat masih menganggap bidang ini sebagai sesuatu yang tabu atau sulit dijangkau.
Contohnya adalah pemanfaatan mata uang kripto melalui platform seperti Indodax dan berbagai platform perdagangan digital lainnya.

4. Mediascapes: Pergerakan Imaji melalui Media
Mediascapes menggambarkan kekuatan media internasional dalam menyebarkan berita dan informasi secara cepat ke seluruh dunia.
Ruang ini menghadirkan berbagai ide dan inovasi, misalnya perkembangan Artificial Intelligence (AI) dan ChatGPT yang kini banyak digunakan untuk memperoleh jawaban instan namun relatif akurat atas berbagai pertanyaan.
Sayangnya, budaya ketergantungan terhadap AI dan teknologi digital belum diimbangi dengan kajian etika penggunaan yang memadai.

5. Ideoscapes: Pergerakan Ideologi dan Simbol Global
Ideoscapes merujuk pada penyebaran ideologi, simbol, narasi politik, dan gagasan global.

Dalam ruang ini, masyarakat dapat terjebak pada ideologi kelompok atau bangsa lain yang tampak meyakinkan melalui simbol dan citra tertentu, tetapi kenyataannya berbeda dari yang terlihat. Misalnya, berkembangnya ideologi-ideologi tertentu melalui media digital yang memengaruhi pola pikir generasi muda.

Kelima ruang pergerakan tersebut memungkinkan setiap individu mempelajari, bahkan meniru, budaya lain. Dalam kehidupan keagamaan, misalnya, banyak pola pelayanan gereja Barat yang kemudian diadopsi oleh gereja-gereja lokal, mulai dari asas pelayanan hingga hal-hal teknis seperti regulasi pendidikan calon pendeta.

Semua itu merupakan anugerah konektivitas global. Faktor yang paling berperan dalam konektivitas ini adalah media. Media memungkinkan interaksi antarindividu dengan latar belakang budaya, ideologi, dan kebiasaan yang berbeda.

Interaksi tersebut memengaruhi kehidupan dan pelayanan dalam berbagai aspek, mulai dari kebiasaan sehari-hari, gaya bahasa, pola makan, cara berpakaian, hingga keputusan-keputusan strategis seperti memilih pasangan hidup dan pekerjaan.
Singkatnya, globalisasi dengan topangan dunia digital telah menjadi navigasi baru bagi kehidupan manusia.

3. Peran ITM: Ideascapes, Technoscapes, dan Mediascapes

Penting ditegaskan bahwa kelima ruang pergerakan di atas sangat dipengaruhi oleh tiga elemen utama yang dapat disingkat sebagai ITM:
Ideascapes (ruang pergerakan ide/imaji),
Technoscapes (ruang pergerakan teknologi), dan
Mediascapes (ruang pergerakan media).
Ketiga unsur ini saling berhubungan satu sama lain. Sebuah ide besar sekalipun tidak akan berkembang tanpa dukungan teknologi yang memadai dan media yang mampu menyosialisasikannya kepada masyarakat luas.
Karena itu, dikenal pula istilah 3P, yaitu:
Postmodern, Postmodernisme, dan
Postmodernitas.

Menurut Bauman (1992) dan Featherstone (1994), postmodern menggambarkan perubahan paradigma yang mengarah pada hilangnya kepastian dan kesatuan dalam dunia yang semakin kompleks. Kondisi ini dapat muncul akibat penyalahgunaan ruang ide, teknologi, dan media.
Artinya, modernitas pada dasarnya merupakan sesuatu yang positif. Namun ketika teknologi, media, dan ide disalahgunakan, manusia justru menjadi korban dari modernitas itu sendiri.

Sementara itu, postmodernisme dipahami sebagai gerakan intelektual yang muncul sebagai respons terhadap kondisi tersebut. Ia menolak otoritas tunggal dan kebenaran absolut, serta menekankan pentingnya konteks, relativitas, dan perbedaan dalam memahami makna.

Adapun postmodernitas menggambarkan situasi ketika manusia kehilangan pegangan terhadap nilai, keyakinan, dan kepastian yang sebelumnya dianggap stabil.

Sebagai contoh, dahulu mahasiswa yang menjawab pertanyaan dosen harus menatap mata dosen sebagai bentuk penghormatan. Kini banyak mahasiswa menjawab sambil menunduk karena membaca informasi dari AI atau ChatGPT. Di sini terlihat bagaimana ide, media, dan teknologi memengaruhi perilaku sosial manusia.

4. Lalu Bagaimana?

Era postmodernitas menghadirkan dunia yang semakin sulit dipahami dan diprediksi. Banyak peristiwa global bergerak begitu cepat, termasuk konflik internasional, perubahan sosial, maupun perkembangan teknologi.
Karena itu, ruang-ruang pergerakan yang telah dijelaskan di atas penting dipahami secara kritis sambil memanfaatkan dunia digital secara maksimal dan bijaksana.

Pemaknaan yang benar dan kontekstual terhadap modernitas maupun postmodernitas akan membantu manusia menemukan solusi terhadap berbagai persoalan sosial, keagamaan, pendidikan, dan politik yang berkembang secara masif saat ini.

(Redaktur : penasulbar.com)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *