Kondisi hamparan sawah di Desa Pangadaran yang membutuhkan irigasi. Foto: duk.pena.
Mamasa,penasulbar.com – Harapan untuk kembali menjadikan Desa Pangadaran, Kecamatan Tabulahan, Kabupaten Mamasa, sebagai salah satu lumbung beras masyarakat kembali disuarakan para petani. Mereka berharap Pemerintah Daerah (Pemda) Mamasa memberikan perhatian serius terhadap pembangunan infrastruktur irigasi yang selama ini menjadi kebutuhan mendesak di wilayah tersebut.
Lebih dari 30 hektare sawah yang dahulu menjadi penopang kebutuhan beras masyarakat Desa Pangadaran, bahkan memasok hasil panen ke sejumlah desa tetangga seperti Malatiro, Burana, hingga Lakahang, kini terbengkalai dan berubah menjadi lahan kering yang tidak produktif.
Kondisi ini bukan disebabkan oleh ketiadaan sumber air, melainkan belum tersedianya infrastruktur irigasi yang memadai. Keterbatasan kemampuan ekonomi masyarakat membuat para petani belum mampu membangun saluran irigasi secara mandiri untuk mengalirkan air ke areal persawahan mereka.
Akibatnya, potensi pertanian yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Lahan yang seharusnya menghasilkan padi dan menopang ketahanan pangan justru dibiarkan mengering.
Almerta, salah seorang pemilik sawah yang terdampak kondisi tersebut, mengungkapkan bahwa dirinya telah lebih dari lima tahun tidak dapat menggarap sawahnya karena tidak tersedianya jaringan irigasi.
Menurutnya, pembangunan irigasi menjadi kebutuhan utama agar lahan pertanian yang selama ini tidak produktif dapat kembali diolah dan menghasilkan panen bagi masyarakat.
Ia pun menyampaikan harapan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Mamasa agar memberikan dukungan melalui program pembangunan irigasi yang berpihak pada kebutuhan petani di Desa Pangadaran.
“Mewakili teman-teman para petani, saya memohon perhatian kepada Pemda Mamasa agar membantu kami membangun irigasi,” ucap Almerta.
Ia mengenang, sebelum banjir besar yang terjadi beberapa tahun lalu, Desa Pangadaran dikenal sebagai salah satu daerah penghasil beras yang mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat sendiri, bahkan menjual hasil panennya ke sejumlah desa lain.
Namun, kondisi tersebut kini berbalik. Masyarakat yang dahulu menjual beras ke desa tetangga justru harus membeli beras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Sebelum terjadi banjir besar pada beberapa tahun yang lalu, kami menjadi penghasil beras, bahkan bisa dijual ke luar seperti ke Burana, Malatiro sampai Lakahang. Tetapi sekarang sudah berbeda, kami yang ke Lakahang membeli beras,” tuturnya.

Irigasi Menjadi Harapan untuk Kebangkitan Petani
Bagi para petani di Desa Pangadaran, pembangunan irigasi bukan sekadar pembangunan infrastruktur fisik, melainkan langkah penting untuk memulihkan produktivitas pertanian, mengembalikan sumber penghasilan keluarga, serta memperkuat ketahanan pangan masyarakat desa.
Dengan tersedianya jaringan irigasi yang memadai, puluhan hektare sawah yang selama ini tidak tergarap diharapkan dapat kembali ditanami. Hal itu juga berpotensi mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap pasokan beras dari luar desa.
Harapan tersebut menjadi penting di tengah upaya mendorong kemandirian pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani di daerah. Potensi lahan yang tersedia akan sulit memberikan manfaat maksimal apabila tidak didukung sarana pengairan yang memadai.
Karena itu, para petani berharap pemerintah daerah dapat meninjau langsung kondisi persawahan di Desa Pangadaran dan mempertimbangkan pembangunan irigasi sebagai salah satu prioritas program pembangunan pertanian.
Bagi masyarakat setempat, perhatian terhadap kebutuhan irigasi merupakan investasi jangka panjang. Selain membuka kembali peluang produksi beras, pembangunan tersebut diharapkan mampu menghidupkan perekonomian desa dan mengembalikan kejayaan Pangadaran sebagai daerah penghasil beras.
Para petani kini menaruh harapan agar lahan-lahan yang selama bertahun-tahun mengering dapat kembali menghijau, sehingga Desa Pangadaran tidak lagi hanya menjadi pembeli beras, tetapi kembali menjadi desa yang mampu menghasilkan pangan bagi masyarakatnya sendiri. (NSP)






