Prevalensi Kusta Sulbar Masih Tinggi, 230 Kasus Aktif Tersebar di Enam Kabupaten

Penyakit kusta persoalan serius di Sulbar

Mamuju,penasulbar.com – Penyakit kusta masih menjadi persoalan serius kesehatan masyarakat di Provinsi Sulawesi Barat. Data Sistem Informasi Penyakit Kusta (SIPK) tahun 2025 mencatat angka prevalensi kusta mencapai 1,58 per 10.000 penduduk, dengan 230 penderita aktif yang tersebar di enam kabupaten.

Jumlah kasus terbanyak berada di Kabupaten Polewali Mandar dengan 113 penderita, disusul Majene 42 kasus, Pasangkayu 30 kasus, Mamuju 27 kasus, Mamuju Tengah 17 kasus, dan Mamasa 1 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Sulawesi Barat, dr. Nursyamsi Rahim, menegaskan bahwa tingginya prevalensi tersebut menunjukkan masih terjadinya penularan aktif di tengah masyarakat.

“Angka ini menjadi alarm bagi kita semua. Artinya, upaya pencegahan dan pengendalian kusta harus terus diperkuat, terutama melalui deteksi dini dan kepatuhan berobat,” ujar dr. Nursyamsi, Senin, 29 Desember 2025.

Ia menekankan bahwa kusta bukan penyakit kutukan maupun keturunan, melainkan penyakit infeksi yang dapat disembuhkan. Seluruh pengobatan kusta juga tersedia gratis di fasilitas pelayanan kesehatan.

“Tantangan terbesar bukan pada obat, tetapi pada keterlambatan pemeriksaan, rendahnya kepatuhan pengobatan, dan masih kuatnya stigma di masyarakat,” tegasnya.

Untuk itu, Dinas Kesehatan Sulbar terus mendorong penemuan kasus secara aktif, memperkuat peran puskesmas, serta meningkatkan edukasi agar masyarakat tidak takut memeriksakan diri sejak muncul gejala awal.

Pengendalian kusta, lanjut dr. Nursyamsi, sejalan dengan Misi Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka dan Wakil Gubernur Salim S Mengga dalam mewujudkan sumber daya manusia yang unggul dan berkarakter, sekaligus mencegah kecacatan akibat keterlambatan penanganan.

Dinas Kesehatan Sulbar juga mengajak seluruh elemen masyarakat—pemerintah kabupaten, tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, dan keluarga—untuk bersama-sama menghapus stigma, mendorong pemeriksaan dini, serta mendukung penderita menjalani pengobatan hingga tuntas.

“Dengan kolaborasi semua pihak, kami optimistis prevalensi kusta di Sulawesi Barat dapat ditekan secara signifikan demi mewujudkan masyarakat yang sehat, produktif, dan bermartabat,” pungkasnya. (Ns-rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *