Pawai Obor Paskah Jemaat Sion Salubulung: Saat Terang Kasih Menyala di Tengah Kebersamaan

Sosok pemeran Yesus memikul salib dalam pawai Obor Jemaat Sion Salubulung. Foto:duk.pena

Mamasa,penasulbar.com —Malam yang biasanya sunyi berubah menjadi lautan cahaya. Obor-obor menyala, menggenggam hangat di tangan jemaat Sion Salubulung seakan menjadi saksi bahwa kasih tidak pernah padam, bahkan dalam gelap sekalipun.

Satu per satu, langkah kaki menyatu dalam irama yang sama, mengiringi sebuah kisah kasih yang tak lekang oleh waktu. Jemaat Sion Salubulung merayakan Paskah tahun 2026 bukan sekadar dengan tradisi, melainkan dengan hati yang larut dalam makna pengorbanan Yesus Kristus melalui Pawai Obor Paskah yang digelar pada Sabtu malam, 4 April 2026.

Di sepanjang jalan yang dilalui, suasana terasa berbeda. Ada hening yang berbicara, ada haru yang tak terucap. Ketika lagu Via Dolorosa mulai dilantunkan bersama, seakan setiap nada membawa jemaat menapaki kembali jalan penderitaan Sang Juruselamat.

Di antara barisan itu, tampak sosok pemeran Yesus memikul salib—sebuah gambaran yang sederhana, namun mampu mengetuk relung hati terdalam setiap yang menyaksikan.

Namun malam itu bukan hanya tentang kesedihan. Di balik kisah penderitaan, terselip sukacita yang hangat. Jemaat dari berbagai Daerah Pelayanan tampil dengan kostum penuh warna, salib yang dihias dengan kreativitas, serta yel-yel yang menggema penuh semangat. Semua berpadu menjadi satu ungkapan iman yang hidup, yang dirayakan bersama dalam kasih persaudaraan.

Buli dan Iis Kurnia, selaku panitia penyelenggara, mengungkapkan bahwa pawai ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Obor yang menyala di tangan jemaat adalah lambang terang kasih Kristus—terang yang tidak hanya menerangi jalan malam itu, tetapi juga diharapkan terus menyala dalam hati setiap orang percaya. Dalam kebersamaan itu, iman tidak hanya diucapkan, tetapi dirasakan dan dihidupi.

Hal senada disampaikan oleh Ibu Anina, Ketua Majelis Jemaat Sion Salubulung. Baginya, Jalan Salib adalah pengingat akan kasih yang begitu besar—kasih yang rela menanggung penderitaan demi keselamatan manusia. Obor yang menyala menjadi simbol harapan, bahwa dalam setiap gelap kehidupan, selalu ada terang yang setia menuntun.

Ketika langkah terakhir pawai berakhir, dan obor-obor mulai redup, sesungguhnya ada nyala lain yang justru semakin terang—nyala di dalam hati. Jemaat pulang bukan hanya dengan kenangan, tetapi dengan semangat baru: untuk terus menghidupi kasih, pengorbanan, dan pengharapan dalam setiap langkah kehidupan mereka.

Sebab pada akhirnya, Paskah bukan hanya untuk dikenang—melainkan untuk dihidupi. (Bl-ns-01)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *