MAMUJU – Pengembangan jagung di Sulbar dituding sebagai salah satu penyebab terjadinya banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sulbar baru-baru ini.
Hal itu terjadi karena kondisi lahan penanaman jagung di Sulbar sebagian besar lahan miring dan terjal. Disisi lain, cara pengolahan lahan yang dilakukan para petani tergolong masih tradisional.
Menurut Kepala Dinas (Kadis) Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan (TPHP) Sulbar, Muktar, luas lahan untuk pengembangan jagung di Sulbar sebanyak 226.000 hektare dan lebih 60 persen lahan miring.
Oleh karena itu, ia menghimbau para petani agar mengolah lahan pertanian secara konservasi demi mencegah terjadinya kerusakan lahan seperti longsor.
“Luas lahan yang cocok untuk tanaman jagung di Sulbar 180 ribu ha ditambah 46 ribu lahan marjinal jadi total 226 ribu ha dengan kondisi lebih 60 persen lahan miring. Jika petani tida mengolah secara konservasi maka dapat menimbulkan bencana seperti longsor dan banjir, “terang Muktar saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (8/11/2022).
Menurutnya, dalam mengolah lahan miring, petani tidak boleh mengikuti arah lereng melainkan harus memotong lereng.
Selain itu, lahan diatas kemiringan 15 persen sebaiknya diterasering agar menghindari terjadinya erosi permukaan.
Lalu pada kemiringan yang lebih tinggi diatas 30 persen seharusnya jangan ditanami jagung tetapi ditanami jenis tanaman lain seperti kayu dan buah-buahan.
“Mari kita bertani secara modern, jika lahan kita miring ya buatlah terasering biar tidak terjadi erosi. Lahang diatas kemiringan 30 persen jangan lagi ditanami jagung tetapi pilih jenis kayuan seperti pakan ternak dan buah-buahan,” Pungkasnya.
(ADV).






