Perbandingan kondisi Idrus saat masih di pasung dalam kandang bambu dan sesudah menjalani perawatan. Foto:duk.penan
Mamasa,penasulbar.com – Delapan tahun bukanlah waktu yang singkat. Selama kurun itu, Idrus (27), pemuda asal Dusun Ulu Lakahang, Desa Tampang, Kecamatan Tabulahan, Kabupaten Mamasa, menjalani hidup di balik pasung berupa kandang bambu. Hari demi hari dilaluinya dalam ruang sempit, terpisah dari kehidupan normal yang dinikmati orang lain.
Bukan karena keluarganya tak menyayangi Idrus. Justru sebaliknya, mereka terpaksa mengambil keputusan pahit itu lantaran tak memiliki kemampuan ekonomi untuk membawanya menjalani pengobatan. Keinginan agar Idrus sembuh selalu ada, tetapi biaya menjadi tembok yang selama bertahun-tahun sulit mereka lewati.
Harapan itu akhirnya datang dari kepedulian banyak orang. Pendamping Sosial Kecamatan Tabulahan, Kepala Puskesmas Tabulahan, bersama para relawan menginisiasi gerakan donasi. Sedikit demi sedikit bantuan dari para dermawan mengalir hingga akhirnya terkumpul dana yang cukup untuk mengantarkan Idrus menjalani pengobatan di Rumah Sakit Regional Provinsi Sulbar di Mamuju.
Perjalanan menuju rumah sakit menjadi titik balik dalam hidup Idrus. Selama tiga hari ia menjalani perawatan intensif di bawah penanganan tenaga medis. Hasilnya membawa kabar yang menggembirakan. Kondisi Idrus berangsur membaik hingga akhirnya pada Rabu (5/8/2026), ia diperbolehkan pulang ke rumah. Kini, ia akan menjalani kontrol kesehatan secara rutin di RS Regional Mamuju sebagai bagian dari proses pemulihan.
Di wajah Idrus kini terpancar senyum yang selama bertahun-tahun seolah hilang. Dengan suara lirih, ia mengungkapkan rasa syukur kepada semua orang yang telah menjadi jalan kesembuhannya.
“Saya berterima kasih kepada semua pihak yang sudah membantu dengan ikhlas sehingga saya bisa menjalani pengobatan. Sudah lama saya ingin berobat, tetapi tidak ada biaya,” ucap Idrus.

Bagi Idrus, bantuan yang diterimanya bukan sekadar biaya berobat. Bantuan itu telah mengembalikan harapan dan kebebasan yang selama delapan tahun direnggut oleh keadaan.
“Hanya Tuhan yang bisa membalas semua kebaikan bapak dan ibu. Tanpa kehadiran kalian, mungkin saya masih berada di dalam kandang bambu. Tidak ada yang bisa saya lakukan untuk membalas ketulusan kalian. Biarlah Tuhan yang membalas semua kebaikan orang-orang yang telah menolong saya,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Kisah Idrus menjadi bukti bahwa kepedulian masih hidup di tengah masyarakat. Ketika banyak tangan memilih untuk saling menggenggam, harapan yang hampir padam pun bisa kembali menyala. Seorang pemuda yang bertahun-tahun hidup dalam keterbatasan kini kembali menatap hari esok dengan harapan baru, membuktikan bahwa kebaikan, sekecil apa pun, mampu mengubah hidup seseorang. (Nisan)






