Wabah DBD Melanda Desa Kinatang Kabupaten Mamuju, Satu Warga Meninggal Dunia

Foto ilustrasi

Mamuju,penasulbar.com. 22 Maret 2026 – Wabah Demam Berdarah Dengue (DBD) dilaporkan terjadi di Desa Kinatang, Kecamatan Bonehau, Kabupaten Mamuju. Kasus DBD telah teridentifikasi di tiga dusun, yakni Dusun Pauan, Dusun Tamelite, dan Dusun Kinatang.

Berdasarkan data dari tim kesehatan setempat bersama Puskesmas Hinua, total terdapat 12 kasus yang teridentifikasi, dengan rincian 3 pasien positif DBD (salah satunya meninggal dunia), 3 pasien dengan gejala kuat yang telah dirujuk ke puskesmas, serta 6 pasien dengan gejala awal DBD.

Tim kesehatan bersama pemerintah desa telah bergerak cepat melakukan berbagai langkah penanganan dan pencegahan. Upaya tersebut meliputi koordinasi intensif dengan Puskesmas Hinua, edukasi kepada masyarakat terkait pemberantasan sarang nyamuk (PSN), serta imbauan agar warga segera memeriksakan diri jika mengalami gejala seperti demam tinggi, nyeri sendi, ruam kulit, dan mual.

Salah satu tenaga kesehatan setempat, Iwin, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kebersihan lingkungan dengan rutin menguras dan menyikat bak mandi, mengalirkan genangan air, serta menggunakan obat nyamuk atau kelambu saat tidur. Ia juga mengingatkan warga untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala demam.

Sementara itu, pihak Puskesmas Hinua telah melakukan penaburan bubuk Abate di sejumlah titik genangan air guna membunuh jentik nyamuk. Selain itu, koordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Mamuju juga telah dilakukan untuk pelaksanaan pengasapan (fogging) di wilayah terdampak.

Tenaga kesehatan lainnya, Ipa, menyampaikan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk menerapkan langkah 3M Plus, termasuk menguras, menutup, dan mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

Di sisi lain, Komisi Pengawasan Korupsi Tipikor (KPK Tipikor) melalui Divisi Investigasi turut memberikan perhatian terhadap situasi ini. Mereka meminta pemerintah desa segera membentuk Tim Penanggulangan DBD agar penanganan dapat dilakukan secara lebih terstruktur dan efektif.

Masyarakat juga diimbau untuk aktif berpartisipasi dalam upaya pencegahan dengan menjaga kebersihan lingkungan, memeriksa potensi genangan air di sekitar rumah, serta mengikuti arahan dari tenaga kesehatan.

Wabah ini menjadi peringatan bagi masyarakat, khususnya di musim hujan, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran nyamuk Aedes aegypti, yang merupakan penyebab utama DBD.

Pemerintah desa bersama tim kesehatan menyatakan komitmennya untuk terus memantau perkembangan kasus serta melakukan langkah-langkah preventif agar penyebaran DBD dapat segera dikendalikan. (Nls-nsp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *