Mamuju,penasulbar.com — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Barat menegaskan pentingnya penguatan edukasi kebencanaan di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) dan sederajat sebagai upaya membangun generasi muda yang tangguh, sigap, dan siap menghadapi risiko bencana.
Hal ini disampaikan Kepala Pelaksana BPBD Sulbar, Muhammad Yasir Fattah, sejalan dengan arahan Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, yang mendorong peningkatan budaya sadar bencana melalui pendidikan sejak dini hingga tingkat menengah.
Menurut Muhammad Yasir Fattah, sekolah merupakan ruang strategis untuk menanamkan pemahaman mitigasi bencana karena pelajar SMA dinilai sudah memiliki kemampuan berpikir kritis, cepat beradaptasi, serta dapat menjadi agen perubahan di lingkungan keluarga dan masyarakat.
“Edukasi kebencanaan di SMA harus terus digalakkan. Siswa bukan hanya penerima informasi, tetapi juga bisa menjadi pelopor keselamatan di sekolah maupun di rumah. Ketika mereka paham mitigasi, risiko dapat ditekan sejak awal,” ujar Yasir Fattah, Senin 02 Februari 2026.
Ia menjelaskan, materi edukasi meliputi pengenalan jenis-jenis bencana di Sulbar, langkah penyelamatan diri, simulasi evakuasi, penggunaan jalur evakuasi, hingga pembentukan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).
BPBD Sulbar juga terus bersinergi dengan Dinas Pendidikan, pihak sekolah, relawan, serta komunitas kebencanaan untuk memperluas jangkauan sosialisasi, pelatihan, dan simulasi kebencanaan secara rutin.
Dengan penguatan edukasi di sekolah menengah, BPBD Sulbar optimistis akan lahir generasi muda Sulawesi Barat yang lebih peduli, tangguh, dan berperan aktif dalam upaya pengurangan risiko bencana.
“Ini adalah investasi keselamatan jangka panjang. Semakin banyak anak muda paham mitigasi, semakin kuat ketahanan daerah kita terhadap bencana,” tutup Yasir Fattah. (Rls)






