MAMASA,PS – Pemuda kreatif dengan naluri entrepreneur tidak akan kehabisan akal dalam menghadapi setiap tantangan. Mereka mampu mengubah tantangan menjadi peluang yang menghasilkan cuan dan menolong masyarakat yang lebih luas.
Demikian kata pepata yang tepat untuk menggambarkan kisa para pemuda di Desa Burana, Kecamatan Tabulahan Kabupaten Mamasa, Sulbar.

Disaat harga bibit kakao sambung pucuk meninggi dan ditengah jeritan masyarakat akan sulitnya mendapatkan bibit, sekelompok pemuda di Desa Burana mendirikan sebuah usaha pembibitan dengan nama Burana Kakao Community. (BKC)
Komunitas BKC awalnya digagas oleh Lifrintoriswadi dan Harianto makatonan pada 11 Desember 2023. Kedua pemuda kreatif ini sama-sama prihatin melihat kondisi masyarakat yang berminat berkebun kakao tetapi kesulitan mendapatkan bibit. Ia berdiskusi dan sepakat untuk membuat pembibitan kakao. Tak menunggu waktu lama, mereka langsung memulai usahanya dengan menyiapkan lahan dan mengajak pemuda lainnya untuk bergabung. Mereka merekrut sebanyak delapan pemuda sebagai tenaga kerja.
Diawal usahanya, mereka membagi tugas, Lifrintoriswadi membidangi pembibitan dan Harianto Makatonan bertugas sebagai pemasaran.
“Tahun 2023 yang lalu, kala itu harga kakao sangat melonjak tinggi dan mendorong masyarakat bersemangat membudidayakan kakao . Bibit kakao sambung pucuk hanya ada di Palopo Provinsi Sulsel dan warga Burana memesan kesana dengan harga yang sangat mahal bahkan sampai Rp14.000 per pohon. Selain mahal, jarak tempu pengiriman terlalu jauh yang menyebabkan bibit banyak yang mati sehingga warga mengeluh karena kesulitan mendapatkan bibit. Nah, kondisi ini yang membuat kami berpikir bagaimana caranya membantuk warga agar bisa mendapatkan bibit yang mudah dan lebih murah,” ucap Lifrintoriswadi saat ditemui di Burana, Senin (28/10/2024).
Dengan lahan seluas 1600 meter persegi berkapasitas 52.000 pohon bibit cacao, diakhir tahun 2023 para pemudah di Burana ini memulai usahanya.
Satu mimpi yang ingin dicapai adalah menjadikan Desa Burana sebagai penghasil biji kakao sambung pucuk, memudahkan masyarakat mendapat bibit, menekan harga bibit, dan membuka lapangan kerja bagi generasi muda.
“Dengan prinsip, kenapa harus pergi jauh ke Palopo beli bibit yang mahal baru kita juga bisa bikin. Kita harus berani membuka usaha pembibitan, kita juga pasti bisa,” kata Rinto sapaan akrapnya.

Berkat keuletan dan keberanian berinovasi, Rinto dan kawan-kawannya berhasil menerima cuan hingga ratusan juta rupiah hanya dalam beberapa bulan.
“Sejak bulan Juni 2024 kami sudah mulai penjualan dengan harga Rp9000 per pohon, jauh lebih murah dari bibit yang didatangkan dari luar daerah sebesar Rp14.000 per pohon. Sampai saat ini, Rata-Rata penjualan kami, 5000-6000 pohon setiap bulan yang dipasarkan bukan hanya di Desa Burana tetapi juga ke luar seperti, Kecamatan Bambang, Bumal, Kalumpang, Mamuju Tengah, Keang, Lakahang dan beberapa desa di Kecamatan Tabulahan,” ucapnya.
Rinto mengatakan, jika diakumulasi jumlah bibit yang sudah terjual sebanyak 27 ribu pohon dengan omset lebih Rp250.000.000. Karena banyaknya peminat, saat ini, pihaknya sedang membuka dua cabang pembibitan dengan kapasitas 10.000 pohon.
“Kita sudah menjual bibit diatas 27 ribu pohon dengan total omzet penjualan lebih Rp250.000.000. Karena permintaan banyak maka kami buka dua cabang dengan kapasitas 10 ribu pohon,” ucapnya.
MEMAKNAI HARI SUMPAH PEMUDA
Meski sibuk mengurus usaha pembibitannya, Rinto juga tak melupakan momentum bersejarah peringatan hari Sumpah Pemuda 28 Oktober.
Ia berpesan kepada seluruh anak-anak muda agar berani berwirusaha. Sejarah mencatat bahwa pemuda mampu mempersatukan seluruh suku bangsa untuk berperang merebut kemerdekaan. Itu artinya pemuda selalu terdepan dan memiliki banyak inde dan kreativitas.
Olehnya itu, kata Rinto, memaknai hari Sumpah Pemuda tahun ini maka pihaknya mengajak seluruh pemudah untuk berani berwirausaha dan menciptakan lapangan pekerjaan.
“Musu kita saat ini bukan lagi penjajah dari bangsa asing tetapi musuh kita adalah kemiskinan. Mari kita perangi kemiskinan dengan berwirausaha dan membuka lapangan pekerjaan,” pesan Rinto.
Menurutnya, berwirausaha itu sangat menyenangkan karena kita adalah bosnya. “Sekecil apapun usaha yang kita bangun kita adalah bosnya, dan sebesar apapun perusahaan yang kita tempati bekerja kita tetaplah seorang karyawan, jangan mau menjadi orang asing di negeri sendiri, karena usaha bukan ditentukan oleh seberapa besar modal yang kita butuhkan untuk memulainya, melainkan seberapa besar kegigihan kita untuk melakukannya,” pungkasnya.
(Ns-01)









